Afghanistan Serukan Warga Sipil Mengangkat Senjata Melawan Taliban

Afghanistan Serukan Warga Sipil Mengangkat Senjata Melawan Taliban

Afghanistan Serukan Warga Sipil Mengangkat Senjata Melawan Taliban - Setelah menduduki Kabul, Taliban sedang mencari legitimasi internasional dan telah mengobral janji-janji. Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menyatakan pihaknya masih menakar apakah kelompok tersebut benar-benar serius atau tidak. Saat ditanya apakah dia mempercayai Taliban, Biden menjawab bahwa dia tidak mempercayai siapa pun sebagaimana dilansir NDTV. Pejabat Uni Eropa (UE) mengatakan militan Taliban telah menguasai 65 persen wilayah Afghanistan. Hal itu terjadi karena Taliban mengambil keuntungan seiring Amerika Serikat (AS) dan NATO menarik pasukannya dari Afghanistan, setelah pertempuran 20 tahun yang tak kunjung usai. Dikutip dari Reuters, Presiden Ashraf Ghani telah meminta dukungan kepada negara-negara di kawasan untuk mendukung Afghanistan. Sementara, pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) khawatir perkembangan hak asasi manusia yang diupayakan selama 20 tahun runtuh begitu saja. Para pejabat mengatakan Ghani mencari bantuan dari milisi regional yang menganggap Taliban Login IDN Poker77 sebagai musuh, sekalipun mereka pernah menentang kekuasaan Ghani. Dia juga menyerukan warga sipil mengangkat senjata yang dibagikan pemerintah, untuk membela demokrasi yang akan runtuh jika Taliban berkuasa di Afghanistan.
1. Tidak ada kota yang aman, bahkan Kabul sekali pun
Semakin Ganas, Taliban Kuasa 65 Persen Wilayah Afghanistan
Satu per satu ibu kota provinsi mulai jatuh ke kekuasaan Taliban. Di Kota Aibak, ibu kota Provinsi Samangan, masyarakat melaporkan pejuang Taliban mulai mengkonsolidasikan kekuatan. Kini mereka mulai menargetkan pejabat dan gedung-gedung pemerintahan. “Satu-satunya cara (untuk aman) adalah menjadi tahanan rumah atau mencari cara untuk pergi ke Kabul. Tetapi Kabul bukanlah pilihan yang aman lagi,” kata Sher Mohamed Abbas, petugas pajak Provinsi Samangan, ketika ditanya tentang kondisi kehidupan di Aibak. Abbas menambahkan, Taliban sudah menguasai kantornya dan meminta para pekerja untuk pulang pada Selasa (10/8/2021). Taliban berjuang untuk mengalahkan pemerintahan Ghani yang didukung AS, dan menerapkan kembali hukum Islam yang ketat. Mereka berhasil menaklukkan Aibak tanpa perlawanan berarti.
2. Taliban mengancam akan merebut 11 ibu kota di Afghanistan
Semakin Ganas, Taliban Kuasa 65 Persen Wilayah Afghanistan
Pasukan Taliban kini mengancam akan mengambil alih 11 ibu kota provinsi. Pada Selasa, 10 Agutus 2021, Taliban dikabarkan telah menguasai enam ibu kota provinsi. Kepala Otoritas Bencana Nasional, Gulam Bahauddin Jailani, mengatakan pertempuran sedang terjadi di 25 dari 34 provinsi. Dia menyebut 60 ribu keluarga telah mengungsi dalam dua bulan terakhir, yang sebagian besar mencari perlindungan di Kabul. Sementara, sekitar 400 ribu warga Afghanistan telah mengungsi dalam beberapa bulan terakhir dan telah terjadi peningkatan jumlah orang yang melarikan diri ke Iran selama 10 hari terakhir, kata pejabat Uni Eropa. Kepala Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet mengatakan, mereka telah menerima laporan tentang kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Bachelet juga merasa terganggu karena mendapati laporan soal pasukan pemerintah yang menyerah terhadap Taliban. "Orang-orang benar takut bahwa perebutan kekuasaan oleh Taliban akan menghapus pencapaian hak asasi manusia dalam dua dekade terakhir," katanya.
3. Amerika Serikat melihat Taliban adalah tanggung jawab Afghanistan
Semakin Ganas, Taliban Kuasa 65 Persen Wilayah Afghanistan
Di kutip dari Bloomberg, suasana di Afghanistan bisa semakin kisruh karena Ghani telah menyatakan kebuntuan dalam dialog damai dengan Taliban. Syarat perdamaian yang di ajukan Taliban adalah Ghani harus mundur dari jabatan presiden. Sementar, Ghani bersikukuh tidak akan menanggalkan jabatannya hingga pemilu berikutnya. “Taliban tidak percaya pada pembicaraan damai. Kita ingin damai, tapi mereka ingin kami (pemerintahan saat ini) menyerah,” kata Ghani. Sementara, pemerintahan Joe Biden menghadapi kritik dari berbagai komunitas internasional, termasuk Moskow dan Beijing, karena menarik pasukannya terlalu cepat dari Afghanistan. Kekacauan di Afghanistan kini berpotensi mengganggu stabilitas kawasan. Perang di Afghanistan telah menewaskan lebih dari 2.400 anggota militer AS dan merugikan negara hingga 1 triliun dolar AS (Rp14.398 triliun). Penting juga untuk dicatat bahwa Washington telah berhasil mencapai tujuannya, yaitu membunuh Osama bin Laden sebagai dalang serangan 9/11 sekaligus melemahkan Al-Qaida. Juru bicara Pentagon John Kirby mengatakan, Washington akan terus mendukung pasukan Afghanistan hingga akhir bulan. Setelah tenggat waktu penarikan pasukan jatuh tempo, kontribusi AS tidak lebih dari bantuan keuangan dan logistik. "Ini adalah negara mereka. Ini adalah kekuatan militer mereka. Dan Ini adalah ibu kota provinsi mereka, orang-orang yang mereka pertahankan,” ujar Kirby, menegaskan bahwa keamanan dan stabilitas Afghanistan merupakan tanggung jawab pemerintahan Ghani. Dalam pidatonya di Gedung Putih, Biden menuturkan bahwa jika Taliban ingin menyejahterakan rakyat Afghanistan, mereka membutuhkan bantuan tambahan seperti bantuan ekonomi, perdagangan, dan berbagai macam hal. “Aku tidak percaya siapa pun. Taliban harus membuat keputusan mendasar. Apakah Taliban berusaha untuk dapat bersatu dan memberikan kesejahteraan bagi rakyat Afghanistan, yang tidak pernah di lakukan oleh satu kelompok pun selama 100 tahun,” kata Biden.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *